FBI Sidak Kebocoran Koneksi Facebook ke Cambridge Analytica
siaranid - Kasus bocornya data akun Facebook yang melibatkan
Cambridge Analytica ternyata sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan.
Departemen Kehakiman, Amerika Serikat, menyatakan kasus ini belum berakhir dan
kali ini FBI ikut turun tangan menginvestigasi.
Hari ini, The Washington Post menerbitkan artikel
yang menyatakan, FBI, FTC, dan SEC sedang menyelidiki hubungan Facebook dan
Cambridge Analytica. Kasusnya sendiri bermula pada 2015 ketika peneliti
Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan, mengembangkan aplikasi kuis yang
menarik dengan mengumpulkan informasi pribadi tentang pemilik akun peserta
kuis.
Kogan kemudian menjual data ke Cambridge Analytica
yang menggunakannya untuk menentukan profil suara untuk jutaan pengguna
Facebook yang diperoleh datanya. Perusahaan konsultan, yang terhubung dengan
Steve Bannon, menemukan daerah mana di negara itu yang diperlukan kampanye
Trump untuk menghabiskan lebih banyak uang.
Hasilnya menakjubkan! Sementara Hillary Clinton
mengumpulkan 3 juta suara lebih banyak daripada Donald Trump, tapi nama calon
terakhir mampu memenangkan kursi kepresidenan berkat 40.000 hingga 80.000 suara
yang ditempatkan dengan baik di beberapa negara bagian. Lebih dari 87 juta
pengguna Facebook mungkin terpengaruh oleh tindakan Kogan.
Menurut The Washington Post, FBI, FTC, dan SEC
berfokus pada apa yang diketahui Facebook tentang Kogan dan Cambridge Analytica
pada 2015. Selain itu, mereka ingin tahu persis jenis data apa yang diperoleh
oleh Cambridge Analytica dan bagaimana bisa ada di tangan mereka.
Lebih menakutkan untuk Facebook, para agen federal
ingin mencari tahu, jika Facebook tahu apa yang sedang terjadi tapi mengapa
mereka tidak mengingatkan pihak berwenang dan memberitahu publik.
FTC sedang mencari kemungkinan Kogan menggunakan
aplikasinya untuk memperoleh data pengguna Facebook tanpa izin. Jika demikian,
perusahaan melanggar Keputusan Izin yang ditandatangani pada 2011 agar tidak
menyebarkan informasi pribadi anggota untuk dibagikan tanpa persetujuan mereka.
Denda FTC dapat memaksa Facebook untuk menulis cek multi-miliar dolar yang
menguras kas keuangan perusahaan media sosial tersebut.
Facebook mengatakan, hari ini pihaknya akan bekerja
sama dengan lembaga yang menyelidiki perusahaan. Sebelumnya, pendiri Facebook,
ketua, dan CEO Mark Zuckerberg menghabiskan waktunya selama dua hari di bulan
April lalu untuk memberi kesaksian kepada Senat dan komite-komite DPR.
"Kami bekerja sama dengan pejabat di AS,
Inggris, dan lainnya. Kami telah memberikan kesaksian publik, menjawab
pertanyaan, dan berjanji untuk melanjutkan bantuan kami karena pekerjaan mereka
terus berlanjut," kata Matt Steinfeld, Juru Bicara, Facebook seperti
dilansir dari The Washington Post, Selasa (3/7/2018).



Komentar
Posting Komentar